Dikala Ku “SeNdiRi”

July 17, 2007

Mudahkan Anakmu Berdoa Kebaikan Untukmu Para Orang Tua

Filed under: Artikel — sunyi @ 3:00 am

Cerita ini aq dapat dari milist 

Mudahkan anakmu berdoa kebaikan untukmu para orang tua

Sekarang…mereka berdua menangis pelan… di hadapan Kepala Sekolah dan Guru TK Qurrota A’yun* …

Menyesali diri…tak sanggup berkata…kelu lidah mereka, seakan tersedak…tak sanggup mengeluarkan isi hati dan benak mereka…kecuali dengan tetes air mata yang perlahan…

Bertekad sebelum terlambat sepenuhnya…mereka memperbaiki diri, dan menyayangi buah hati mereka sepenuh hati…

Sehingga putri kesayangan mereka dapat dengan mudah berdoa

“Robbighfirlii Wa liwalidayya Warhamhumaa Kamaa  Robbayaanii Shogiirooo”**…

Tiga jam yang lalu:
============

“Maaf Ibu Shinta, ada telepon, katanya dari sekolah anak Ibu.”

“Ok, saya angkat dari sini, thanks ya Lia”

 “Halo Ibu Shinta, As Salamu ‘alaikum, maaf mengganggu Ibu. Saya Ibu Dian, dari TK Qurrota A’yun ingin membicarakan hal penting terkait anak Ibu – Rahmah, bisa berbicara sebentar?”

“Wa ‘alaikum salam, maaf Ibu guru, apakah penting sekali? Ada apa dengan anak saya? Bisa telepon nanti saja, 1 jam lagi? Saya ada meeting!”

“Maaf Bu Shinta, Saya menyampaikan permintaan dari Ibu Puji – Kepala Sekolah TK Qurrota A’yun, bahwa Beliau mengharapkan kedatangan Ibu dan Suami Ibu pada hari
ini jam 3 siang, membicarakan hal mendesak terkait anak Ibu – Rahmah.”

“Apakah harus hari ini? Saya dan suami saya sibuk sekali! Bisakah Ibu Dian mengerti bahwa kami tidak bisa dipanggil secara mendadak seperti ini?!”

“Kami mengerti sekali, tapi ini sangat mendesak Ibu Shinta, demi kepentingan buah hati Ibu, kami takut bila terlambat, nanti kita semua menyesal.”

“Apa maksudnya dengan menyesal? Apa anak saya melakukan kesalahan? Nakal? Silahkan Ibu hukum, kami sudah memberikan wewenang sepenuhnya kepada sekolah
untuk mengajar, mendidik dan merawat anak kami di sekolah, termasuk menghukumnya bila perlu!”

“Ibu Shinta, kalau masalahnya sekedar nakal biasa…kami
tak perlu repot-repot mengganggu Ibu, tetapi ini terkait dengan masalah perkembanga  kejiwaan anak Ibu, kami harap Ibu dan Suami Ibu dapat bekerja sama demi kebahagiaan buah hati Ibu, bagaimana?”

“Hm… baiklah, dua jam lagi kami kesana, saya harap benar-benar penting, karena terus terang saja kalian telah mengganggu kami!”

“Kami sekali lagi mohon maaf yang sedalam-dalamnya, kami mengerti kesibukan Ibu dan Suami Ibu, kami tunggu kehadirannya nanti. As Salamu ‘alaikum Bu.”

“Wa ‘alaikum salam.”

 

Hm…ada-ada saja, kenapa lagi dengan Rahmah? Mana aku harus izin keluar kantor…apalagi harus menghubungi Mas Bima, merepotkan saja!

 

Shinta segera menelepon sekretarisnya untuk mendelegasikan beberapa tugas, kemudian meminta izin ke atasannya. Setelah itu dia mengirim SMS ke Bima, suaminya, eksekutif muda sekaligus pemilik salah satu perusahaan swasta besar di Jakarta.

 

Tak lama setelah itu….nada dering Mobile Phone memaksa Shinta menghentikan aktivitasnya lagi…sambil mengambil napas dalam-dalam dan menghela, ia mengeluh ringan, lalu mengangkat Mobile Phone-nya.

“Halo Shinta, ngapain kamu kirim SMS seperti ini… maksa aku harus ikut kamu ke sekolahnya Rahmah? Kamu tahu tidak, aku sedang sibuk?!.. Aku tidak mau melanjutkan `pembicaraan` kita tadi malam, aku tidak mau cari gara-gara lagi sama kamu… kamu aturlah sana, kamu kan ibunya anak-anak!”

“Hai Mas Bima, aku tuh juga sama seperti kamu, memangnya aku pengangguran apa, tapi…kita harus segera kesana, katanya Rahmah ada masalah, dan bukan nakal biasa…katanya ada masalah kejiwaan…entahlah kenapa mereka pakai kosakata seperti itu…ingin menteror orang saja… tapi kalau mereka macam-macam, bakal aku omelin mereka…, kamu pokoknya harus kesana, kamu kan bapaknya anak-anak, kamu sendiri yang sering gembar-gembor sana-sini bahwa kamu tuh kepalanya keluarga, ya kan!?”

“Tunggu…kamu bilang masalah kejiwaan? Rahmah!? Kamu becanda kan!?”

“Ngapain aku bercanda…mereka kali yang bercanda… pokoknya dua jam lagi sampai di sekolah Rahmah!”

“Berarti kalo kita kesana, Rahmah masih di sekolah?”

“Tentu tidaklah, kan sudah ada antar jemput dari sekolah, Rahmah pasti sudah di rumah sama si Mbok!”

“Oke..oke.. ya udah, ketemu disana, dah!”

 

Huh…dasar lelaki egois, tidak ada basa-basi, mutusin telepon pun nggak sopan! Bisanya cuma bikin anak saja, tanggung jawab kagak mau, enak di dia, kagak enak di
gua! Maksa gua jadi ibu rumah tangga, padahal kan gua udah ada karir, masak dia aja yang bisa kelayapan keluar rumah! Jadi cewek harus dipingit terus! Bisa stress gua, ngapain gua kuliah tinggi-tinggi!

 

Huh…cewek reseh, bikin gua sulit konsentrasi, padahal kan gua kerja demi mereka! Udah jelas kalo gua maju, keluarga juga yang untung dan bahagia! Demi masa depan mereka! Apa sih artinya pekerjaanya dia, cuma sebagai kepala cabang aja udah belagu dan cuma punya titel sarjana ekonomi doang, mestinya dia tahu diri!

Cewek tuh ngurusin semua urusan rumah!

 

Shinta dari daerah Senen, Bima dari daerah Sudirman…mereka berdua melaju kencang dengan kendaraannya masing-masing, sambil bergelut dengan seribu kecamuk di benaknya…gelisah di hatinya…pergi ke arah daerah Pondok Gede, tempat putri kesayangan mereka – Rahmah, bersekolah di TK Qurrota A’yun.

 

 

Tiga puluh menit yang lalu:
=====================
“As Salamu ‘alaikum, permisi saya ingin bertemu dengan Ibu Dian dan Ibu Puji, saya Ibunya Rahmah”

“Oh, Wa’alaikum salam, silahkan Bu, saya sendiri Ibu Dian, mari kita masuk ke ruangan Ibu Puji! Oh ya, Bapak tidak datang barengan Ibu?!”

“Oh jadi Suami saya belum datang, mungkin ada urusan penting…mungkin kita mulai dulu saja, soalnya saya juga ada urusan penting!”

Mereka masuk ke ruang kerja Ibu Puji, setibanya di dalam, Ibu Puji langsung menyambut mereka.

“Terima kasih Ibu Shinta sudah menyempatkan diri datang…sebenarnya saya ingin mulai, namun karena sangat penting, kita tunggu dulu ya kedatangan Pak Bima?!”

“Ohh… ii..iya Bu…”, lirih terdengar suara Shinta, sambil berusaha memaksakan diri untuk tersenyum…walau kaku.

Semenit…dua menit…. Lima menit… Sepuluh menit…. Lima belas menit… uuh obrolan basi.. padahal ada urusan penting di kantor… brengsek nih Mas Bima, bikin susah aku saja…

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu,

 “Maaf terlambat…tadi ada tamu penting, jadi meeting dulu, terus di jalan macet”

 

Tiga puluh menit sudah shinta menunggu..Shinta dan Bima saling bertukar pandangan dan tersenyum sinis…suasana memanas sekaligus membekukan pembicaraan…sampai akhirnya terpecahkan oleh suara deheman dari Ibu Puji.

“Maaf merepotkan kalian semua…Ibu Shinta…Pak Bima… namun kami dari sekolah mengkhawatirkan perkembangan kepribadian buah hati Bapak dan Ibu…”

“Rahmah hari ini tidak bersikap sebagaimana biasanya… padahal biasanya riang…tidak pernah nakal, tidak pernah bertengkar, tidak pernah menangis, pokoknya kelakuannya sangat baik. Kebetulan yang tahu detail kejadiannya adalah Ibu Dian…Beliaulah yang selalu mengajar kelas dimana Rahma belajar dan bermain.”

“Saya harap Bapak dan Ibu bersabar..diam..dan tidak berbicara dahulu…sampai cerita Ibu Dian selesai, saya persilahkan Bapak dan Ibu berbicara dan mengutarakan pendapat kepada kami.”

“Kami mohon maaf atas kelancangan kami mengganggu Bapak dan Ibu sekalian, silahkan Ibu Dian!”

 

Lima jam yang lalu:
===============
Ibu Dian dengan senyum yang ramah bertanya kepada anak asuhnya – murid TK Qurrota A’yun,

“Hayo anak-anak, apakah semua sudah hafal doa dan arti dari doa kepada kedua orang tua?!”

“Iyaa Bu Guruuuuu!”

“Bagus, ayo kita bareng-bareng, baca doa dan artinya bersamaan. Siap?! Hitungan ketiga dimulai, satu…dua…Tiga!!”

“Robbighfirliii…Wa liwalidayya…Warhamhumaa…Kamaa…Robbayaaniii…Shogiirooo…”

“Artinyaaa:…Ya Tuhanku…Ampunilah Aku…Dan juga kedua orang tuaku…Dan kasihilah mereka berdua…Sebagaimana….Mereka merawatku….Sewaktu keciiiillll”

 

Tiba-tiba ada suara bocah yang memecah riuh gembira lantunan doa…

“Ibu Guru… Rahmah curang… Rahmah tidak pernah membaca kata-kata yang terakhir…”

“Alex, kamu yang tertib ya…jangan bicara dulu… kita baca doa dulu…baru nanti Alex bicara ke Ibu…”

“Tapi Ibu Guru,” sela Alex, “Alex tidak bohong kok, Alex kan anak baik…Rahmah tidak tertib…tidak baca doa seperti kita?”

Hm…iya juga sih mendadak Rahmah agak diam…agak murung, padahal biasanya sangat bersemangat, paling cepat hafal doa, dan suka memimpin membaca doa, dan Alex sangat dekat dengan Rahmah…

“Rahmah, coba Rahmah baca doa sendiri…Ibu mau baca doa, mengikuti tuntunan Rahmah, Rahmah bisa kan?!”

Menunduk seakan takut bertatap mata, Rahmah menjawab lirih

“Bisa Ibu Guru…”

“Robbighfirli… Wa liwalidayya…Warhamhuma….Warhamhumaa….” mendadak terhenti, seperti tersedak oleh sesuatu…

“Tuh kan, Alex nggak bohong, Rahmah nggak berdoa seperti yang Ibu Guru ajarin!”

“Uuh… diam kamu, Alex jelek,” Bentak Rahmah,

“… Rahmah kan… Rahmah kan…”, mendadak Rahmah menangis…

Wah gawat ini!! Ini diluar skenario mengajar, terpaksa aku harus mengalihkan perhatian mereka…dan mendamaikan mereka…

“Lho kok Rahmah menangis, jangan menangis ya sayang, Rahmah akan anak yang pintar, anak yang manis..udah besar…sayang dong menangis…”

“Ayo Alex, sayang-sayang ke Rahmah, Alex kan teman Rahmah, kasihan tuh Rahmah nangis, dihibur ya…”

“Rahmah, Alex minta maaf ya.. bikin Rahmah nangis… maafin ya…ntar mainan lagi kan…ntar Alex boleh makan bareng ama Rahmah kan?!”

“Iya…Rahmah juga minta maaf ama Alex… habis Rahmah barusan …ngomong tidak baik sama Alex…padahal kan Rahmah cuma…cuma nangis karena Mama dan Papa”

 

Aduh senangnya dua anak kecil itu bersalaman dan berpelukan…teduhnya dunia kalo semua orang bersikap polos seperti mereka.. tapi kenapa Rahmah jadi berubah dan bilang nangis karena Mama dan Papa?

Pada saat pulang sekolah, Ibu Dian minta izin ke Ibu Puji untuk menunda pekerjaan administratifnya di TK, karena ingin menghibur Rahmah sekaligus mengantarkannya ke rumah di daerah Cibubur, ikutan nebeng antar jemput sekolah…kebetulan Rahmah diantar paling belakangan, jadi bisa berbicara dan tanya banyak hal kepada Rahmah.

“Rahmah, tadi kenapa nangis waktu baca doa untuk kedua orang tua? Rahmah nangis karena lupa?”

Mendadak, dari sikapnya yang riang dan aktif bergerak dalam mobil jemputan …berubah… Rahmah terdiam…kemudian menggelengkan kepala perlahan sambil meneteskan air mata.

“Lho, kok nangis lagi… kan Rahmah anak manis, masak nangis terus? Kan Rahmah udah gede, ayo bicara ama Ibu Dian, ya sayang?!”

Setelah isak-tangisnya mereda, dengan tersendat, Rahmah menjawab:

“Rahmah…Rahmah…. nangis ….karena sedih …ingat ….Papa Mama…”

“Rahmah ….nggak mau …ntar kalo Papa dan Mama udah tua…Papa Mama kesepian ….karena …..sering Rahmah tinggal kerja…”

“Rahmah ….nggak mau ….ntar kalo …Papa Mama …dengar Rahmah…. bicara tidak baik ….seperti tadi ….seperti Rahmah…. bicara ke Alex…kan sedih…”

“Rahmah nggak…. mau ntar ….kalo Papa Mama… dengar Rahmah… ngomong `cerai`…habis ….Papa Mama ….suka bicara `cerai` … terus habis itu …Papa keluar rumah …dan Mama nangis… Bu Guru…`cerai` itu apa sih? `cerai` itu …kayak mati ya? Habis dulu Papa Mama… nangis waktu dengar katanya Kakek dan Nenek Mati…”

“Rahmah nggak mau ….ntar kalo Papa Mama tidur …tidak ada yang ngelonin…tidak ada yang ngedongeng… tidurnya kayak Rahmah….,sering tidur di depan TV ….karena dongengnya cuma ada di TV Kabel…di Playhouse…di Disneyland…di Nickelodeon…”

“Rahmah nggak mau… ntar Papa Mama …tidak diajak jalan-jalan ama Rahmah,… Kaya  Papa Mama ….suka nggak bisa…lupa ajak Rahmah ….jalan-jalan…padahal …cuma
minta …di hari sabtu …atau di minggu aja kok…”

“Rahmah nggak mau …ntar Papa Mama ditinggal ama Mbok aja..sepi…Rahmah tuh kangen ama Papa Mama…Rahmah nggak mau ntar …Papa Mama kalo udah tua …kangen karena Rahmah tinggalin Papa Mama ama Mbok…di Rumah sendirian…”

“Rahmah nggak mau… Papa Mama…hampir nggak pernah ngelihat Rahmah nanti..soalnya sekarang.. Rahmah hampir nggak pernah ngelihat Papa Mama…pagi Papa Mama udah berangkat… Rahmah mau bobo… Papa Mama belum pulang….”

“Makanya Rahmah sedih…baca doanya bisa diganti tidak?! Kok Ibu Guru diam…kan Rahmah lagi bicara ama Ibu Guru…katanya kalo ditanya orang kita harus menjawab…”

Kini giliranku yang membisu…sambil berjuang membendung genangan air mata di pelupuk mataku…..tak tahu harus berkata apa…

Hanya bisa menjawab lirih diiringi tampias senyum semu, “Iya Rahmah sayang, Ibu Guru dengar kok Rahmah bicara…”

Jakarta, 1 Juli 11:31…menjelang beberapa minggu
sebelum Hari Anak Nasional

1 Comment »

  1. assalamu’alaikum mbak litha
    subhanallah…. bagus sekali tulisan ini, mbak… saya ingin sekali mengutip dan reposting, jika diizinkan…

    Comment by Anang Prabowo — November 17, 2008 @ 2:02 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: