Dikala Ku “SeNdiRi”

June 14, 2007

Uang

Filed under: Blogroll — sunyi @ 7:17 am

Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu? Karena setia kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia  meminjam uang.

Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian  pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau  sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat  meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman  seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal  baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke  kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan.  Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari  office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya,  sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni  terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan  harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya  berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa  punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?

Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan,  belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang  sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan  bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling  rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah  terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya  biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak  terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali  kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy  tersebut. “Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji  saya selalu habis setelah tengah bulan.” Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. “Saya dulu juga begitu, mas.  Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa  meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin  tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang  yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang.  Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup,  apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang  lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak”

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung  kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. “Jadi bagaimana  caranya melepaskan diri dari lilitan utang?” tanya Deni.

“Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung  tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji  saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi  wejangan oleh beliau.” katanya.

Nenek saya berkata: “Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke  tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan  mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung,  maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.”

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: “Bagaimana cara membendungnya?” Nenek saya  menjawab tegas:”Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.”
“Tapi nanti kurang nek.”

“Tidak”, kata nenek. “Begini caranya. Begitu terima gaji, segera  lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang.  Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih  dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.” Lalu saya diajak  menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa
untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak  boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan  raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek  karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup  ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.”

“Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu.  Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya  sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh  saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup  sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan  saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak  pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas.
Sampai sekarang.”

Deni bertanya:”Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu  keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.”

“Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin  menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.”

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti  bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup  besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung  memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu  di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah.
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya.  Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan  membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung.

Mulai  kapan?

Hari ini!

Change!

Start today!

Start now!

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: