Dikala Ku “SeNdiRi”

May 31, 2007

Wanita, Istri dan Mantan Istri

Filed under: Blogroll — sunyi @ 1:39 am

Kemarin malam, saya temukan satu lagi pengalaman menarik dan berharga yg bisa dijadikan renungan dalam hidup berkeluarga. Seperti biasanya keluarga saya suka sekali sate ayam yang dijajakan oleh Pak Toyib melalui gerobak dorongnya. Sekian lama jadi pelanggan, baru kali ini saya bisa “gayeng” ngobrol dengan beliau, maklum selama liburan lebaran ybs juga mudik ke Sunda Tasikmalaya. Dari pembicaraan sedikit demi sedikit merembet bertanya masalah yang cukup sensitif : Masalah keluarga.

Pak Toyib, memang selalu mengganjal dalam fikiranku. Karena ketika kami berinteraksi, tampak jelas dari isi pembicaraan, gaya bahasa yang digunakan bukanlah bahasa orang yang tidak berpengalaman. Usianya sekitar 63 tahun, meskipun rambut dan kumisnya telah memutih, tetapi tatapan matanya sangatlah tajam, menandakan bahwa ybs dulunya bukanlah orang yang biasa-biasa saja.

Waktu itu kebetulan tidak ada pembeli yang lain, sehingga sambil menunggu dibakarkan sate, saya dapat mendengarkan kisah hidupnya. Seperti yang telah beliau ceritakan, bahwa beliau memiliki lima orang anak. Dua orang dari istri pertama, dan tiga orang dari istri kedua.

Dengan nafas sedikit tersengal terkena asap bakaran sate dan tatapan matanya kosong, beliau bercerita mengenai pertemuan dengan istri pertamanya. Beliau sangat tertarik dengannya karena ia adalah wanita yang sangat baik dan taat pada agama, meskipu wajahnya tidak cantik, toh beliau sangat bahagia. Sang istri sangat memanjakan beliau dengan kasih sayang disamping bantuan ekonomi karena ia juga bekerja sebagai guru SMP.

Ybs ternyata sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan di Jakarta. Prahara mulai datang ketika karier beliau meningkat. Perusahaan menunjuk beliau sebagai supervisor pabrik. Keadaan ekonomi yang meningkat sangat menentramkan hati keluarganya apalagi di keluarga baru lahir anak yang kedua. Hati Pak Toyib merasa senang, ia sangat bersyukur pada Tuhan. Tetapi, sore itu sepulang kantor, ia melihat sesosok wanita yang kebingungan di lapangan banteng. Tampak jelas terlihat bahwa wanita tersebut bukanlah penduduk Jakarta. Wajah wanita itu mengingatkan beliau pada adiknya yang telah meninggal, sehingga pada akhirnya iapun menberikan jasa dengan mengontrakkan sebuah rumah, sebelum si wanita mandiri.

Kesibukannya di kantor membuat beliau jarang berhubungan dengan sang istri, sebaliknya kini beliau lebih sering bertemu dengan si wanita. Witing tresno jalaran soko kulino, begitulah orang jawa biasa bilang: Beliaupun akhirnya jatuh cinta pada si wanita.

Begitu mengetahui bahwa beliau memiliki WIL, sang istri menjadi sangat frustasi. Hari-harinya berubah. Sang istri kerap singgah dari tempat bilyard satu ke tempat bilyard yang lain. Anak pun menjadi tidak terurus. Akhirnya keduanyapun sepakat untuk berpisah. Beliau tampak menitikkan air mata. Pak Toyib menikah dengan si wanita, sementara sang istri menjadi single parent. Pada mulanya kehidupan beliau cukup bahagia meskipun sang istri tidaklah seperhatian istri pertama. Anak ketigapun lahir, semakin bahagialah keluarga ini tetapi saat itu beliau sudah cukup berumur, sehingga harus siap-siap pensiun. Selepas pensiun beliau sibuk mencari pekerjaan lain untuk mensupport kebutuhan keluarga.

Sang istri yang tidak terbiasa hidup susah, tidak mau perduli dengan perubahan ekonomi keluarga. Ia hanya pergi pada siang hari dan pulang pada malam hari untuk kegiatan yang tidak jelas.  Anakpun demikian, mereka hanya menganggap beliau sebagai sapi perahan. Anak yang pertama bercerai dengan istrinya karena meskipun pengangguran, ia punya kekasih yang lain. Anak kedua tidak jelas nasibnya, sedangkan anak ketiga ingin masuk perguruan tinggi favourite tapi kurang motivasi, sehingga sia-sialah segala uang yang di keluarkan untuk biaya bimbingan belajar.

Seiring dengan menurunnya kondisi keuangan, maka beliaupun menjual rumah di Jakarta dan memilih pulang ke Tasikmalaya. Tetapi, kondisi buruk terus menimpanya, sampai akhirnya beliau “kesasar” di Malang karena diajak tetangganya yang sukses berdagang tahu goreng sumedang di Malang.

Berbeda dengan kondisi beliau, kondisi mantan sang istri jauh lebih baik. Selepas cerai, mantan sang istri mati-matian berjuang untuk menghidupi anak-anaknya. Mantan sang istri tidak hanya berhenti bermain bilyard, tetapi juga berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak-anaknya. Sekarang sang istri tampak seperti seorang “pensiunan” yang bahagia, karena kedua anaknya telah sukses. Bahkan sesekali kedua anaknya mengirimkan uang untuk Pak Toyib. Kini beliau hanya bisa menatap dan meratap. Ingin beliau memeluk dan mencium mantan sang istri sambil mengucapkan seribu kata penyesalan, namun agaknya semuanya telah berlalu dan tidak akan berulang. Di dunia ini sepertinya syurga bukanlah diperuntukkan bagi beliau, kata beliau menyimpulkan kisah hidup beliau.


Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: